Tradisi Surowan Takir Plotang

Suroan Takir Plotang, Tradisi Unik di Tahun Baru Islam

Bengkulu Utara – Banyak tradisi yang digelar dalam menyambut tahun baru Islam, jika di Kota Bengkulu melaksanakan Tabut, lain lagi dengan warga di Desa Tebing Kaning, Bengkulu Utara. Warga di desa itu memperingati tahun baru Islam dengan mengelar tradisi turun temurun, yang diberi nama Suroan Takir Plotang.

Tradisi ini sudah ada sejak dahulu kala dan harus diselenggarakan setiap tahun oleh warga Desa Tebing Kaning, tepatnya saat menjelang malam 1 suro (dalam kalender Jawa) atau yang lebih dikenal dengan 1 Muharam.
Penyambutan malam 1 suro di desa ini memang berbeda dari desa lain yang mayoritasnya berasal dari suku jawa.

“Jadi acara kami ini murah meriah, murahnya itu tanpa harus mengeluarkan dana yang besar. Hanya bermodalkan membawa nasi di dalam takiri itu saja. Memang dari mbah-mbah dulu seperti itu. Yang penting diperingati dan masyarakat Tebing Kaning kumpul semua di jalan ini,” kata kepala adat Tebing Kaning, Daud

Dalam tradisi ini, setiap kepala keluarga harus menyiapakan makanan dengan jumlah yang disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Makanan tersebut nantinya ditaruh dalam wadah, yang terbuat dari daun pisang atau janur dan dibentuk menyerupai kapal. Wadah inilah yang dinamai Takir Plontang.

Warga berkumpul di tepi jalan raya

Warga diwajibkan menaruh takir tersebut dipinggir jalan hingga semua warga desa berkumpul. Setelah itu takir tersebut didoakan dan dinikmati bersama dengan cara bertukar takir. Tradisi ini dipercaya warga sebagai penolak bala dan menyatukan seluruh warga desa Tebing Kaning sehingga tidak terpecah belah.

“Pesan dari mbah-mbah dulu seperti ini lah, jadi jangan sampai ditinggal kegiatan ini. Karena ini bertujuan untuk menolak bala di desa,” ujar Daud.

Meski harus berdesakan, tradisi yang digelar di pinggir jalan raya desa ini tidak pernah berpindah tempat. Hal ini, dijelaskan Daud, sudah menjadi mandat dari nenek moyangnya kepada penerusnya untuk melaksanakan Suroan Takiran di pinggil jalan tersebut.

“Karena pesan mbah, kalau acara suroan tu harus di sini, dan kami sebagai penerus tidak berani untuk memindahkan lokasi,” jelanya. DH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.