ilustrasi

Asal Nama Gedung Balai Buntar Ternyata dari Sini

Bengkulu – Bagi warga Provinsi Bengkulu khususnya Kota Bengkulu, pasti sudah tidak asing lagi dengan gedung serba guna yang terletak di samping rumah dinas Wakil Gubernur Bengkulu di Jalan P Natadirja. Gedung serba guna itu dikenal masyarakat gedung serbaguna Balai Buntar.

Mantan Ketua Dewan Harian Daerah Pejuang 45 Provinsi Bengkulu Alm H. Syarif Syafri pernah menceritakan, gedung rakyat yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan gedung Balai Buntar, dibangun pada masa Pemerintahan Gubernur Soeprapto, sekitar tahun 1979. Fungsi gedung Balai Buntar, menurut Syarif, untuk kepentingan umum, baik itu pernikahan atau acara dan pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan masyarakat Bengkulu. Seperti keinginan Gubernur Soeprapto ketika itu.

Balai Buntar, menurut keterangannya diambil dari nama salah seorang pemimpin Kerajaan Sungai Lemau (1625) bernama Raja Balai Buntar. Ketika kerajaan Sungai Lemau dipimpin Raja Balai Buntar, lanjutnya, kerajaan yang mayoritas penduduknya merupakan suku Rejang ini terkenal sangat pemberani.

“Alasannya sederhana, kenapa gedung dan makam pahlawan di Bengkulu ini dinamakan Balai Buntar, karena ingin mengenang dan rasa bangga kita kepada pemimpin Kerajaan Sungai Lemau bernama Raja Balai Buntar. Ketika zaman kolonial Belanda, saya lupa tahunnya, ada nama tempat dinamakan Balai Buntar, dijadikan sebagai tempat pertemuan Raja-Raja,” ujar Syarif sambil kembali mengingat-ingat.

Selain itu, Syarif juga menyimpan rasa kecewa kepada masyarakat Bengkulu yang dinilainya kurang peduli terhadap sejarah lokal Bengkulu.

“Kerajaan Sungai Lemau maupun Raja Balai Buntar, adalah sejarah yang situsnya hilang tertanam tanah. Sayangnya masyarakat kita cuek dengan hal-hal seperti ini, membuat sejarah Bengkulu makin tenggelam. Berbeda bila kita bandingkan dengan masyarakat Jawa,” ujarnya.

Lebih terperinci sejarah mengenai Balai Buntar diungkapkan Sejarahwan Bengkulu Drs. Agus Setyanto, M.Hum. Menurutnya, Sungai Lemau bukan sebuah kerajaan pada umumnya. Tapi sebuah wilayah adat yang diberikan nama. Masa kolonial Inggris dan Belanda di Bengkulu, petinggi Sungai Lemau diangkat menjadi birokrat kolonial atau dibirokratisasikan.

Agus memiliki sebuah arsip yang diperolehnya dari arsip Nasional, tentang silsilah pemimpin kerajaan Sungai Lemau. Dalam arsip berbentuk seperti peta dan didominasi tulisan Arab itu, dipangkal atasnya tertulis berbahasa latin, “Bahwa inilah surat tuturan orang Balai Banto yaitu Sungai Lemo asalnya turunan dari Negeri Minangkabau Istana Pagaruyung.”

Masih tertulis dalam arsip, silsilah pemimpin Sungai Lemau dimulai dari Baginda Raja Sakti, Ria Bakoe, Kudu, Ria Ludir, Balai Banto atau Balai Buntar, Syebayam, Seratap, Depati Kembang Abur, Depati Pinang dan Depati Sukabela.

Namun tidak disebutkan mulai dan berapa tahun masing-masing nama tersebut menjadi pemimpin kerajaan Sungai Lemau.

Masih menurut Agus, ketika kerajaan Sungai Lemau dipimpin oleh Balai Buntar, masyarakat mulai merasakan kemakmuran. Selain gagah berani, Balai Buntar dikenal dermawan, sehingga nama Balai Buntar ketika itu sangat dikenal dan termasyhur.

“Jadi tidak heran bila, nama Gedung dan makam pahlwan di Bengkulu ini dinamakan Balai Buntar. Untuk mengenang salah seorang pemimpin asli Bengkulu yang sangat termasyhur dizamannya,” terang Agus.

Ada 4 sifat kepemimpinan dasar seorang Balai Buntar, sekaligus menjadi 4 perkara yang minimal harus dimiliki pemimpin zaman dahulu. Pertama, Tuah Hati Betul (dewasa sekali), kedua, Bermurah Tangan Adanya (suka membantu dan turun langsung melihat rakyatnya), ketiga, Bermuka Manis Adanya (Jiwa melayani dan ramah tanpa ada sifat emosional serta arogan) dan keempat Berlidah Fasih (paham dan pintar menerangkan adat istiadat, agama dan segala sesuatunya).

“Empat perkara tersebut menjadi pedoman, minimal yang harus dimiliki seseorang bila ingin jadi pemimpin saat zaman dahulu. Walau tidak memiliki data yang jelas, paling tidak empat perkara tersebut dimiliki oleh seorang Balai Buntar,” tutupnya.

Artikel ini pernah terbit di Harian RadarBengkulu.
Penulis: Irsan Hidayat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.